Jamming session adalah salah satu kegiatan favorit klo kami berdua lagi nongkrong. Asal ada gitar aja, bisa dipastikan kami bakal betah berlama-lama di tempat satu tempat. Mungkin kalo suatu hari terdampar di pulau tak berpenghuni, kami masih bisa tetap hidup yang penting ada gitar.
Dan air.
Dan makanan.
Dan lauk pauk.
Kalo bisa koneksi WiFi juga ada.
Whatever lah!
Tiap ada gitar nongkrong pasti sudah seperti naluri alami dari mahluk vertebrata, si Jeri dengan penuh nafsu langsung grepe-grepein tiap senarnya. Dan saya pun selalu dengan riangnya menjadi vokalis dadakan.
Pernah satu ketika, saat zaman di mana darah anak muda masih bergejolak dan kegalauan merajalela, saya naksir sama seorang cewek. Untuk mencari muka dan melancarkan aksi PDKT, saya berniat nyanyiin dia lagu pas lagi telpon-telponan.
Sebelum prosesi suci itu dimulai, saya hanya punya satu orang untuk diandalkan, siapa lagi kalo bukan si kawan ajaib, Jeri. Sharing dan brainstorming lagu-lagu pilihan selalu berjalan lancar kalo didiskusikan dengan beliau. Dari penelitian yang saya dapat, si cewek lagi senang dengan Jason Mraz. Dan mulailah kami mencari lagu dari tuan Mraz itu yang pas dinyanyiin untuk deketin cewek.
I'm Yours, salah satu kandidat kuat, lagunya santai, fun, dan gak jauh-jauhlah dari cinta-cintaan. Tapi bagi kami lagu tersebut sudah terlalu pasaran. Maklum waktu itu memang lagi booming-booming nya I'm Yours diputer dimana-mana. Dieliminasi!
Lanjut ke lagu lain, lagu Lucky yang dinyanyiin bareng Colby Cailat, hohohoho, ini sih romantisnya gak ketulungan. Sudah pasti cocok. Tapi lagi-lagi kami meng-eliminasi lagu tersebut karena harus dinyanyiin duet. Gak mungkin saya nyanyi pake suara normal dengan romantisnya, terus di bait lain ganti suara jadi suara banci kaleng sarden!
Berikutnya mundur lebih ke belakang, lagu Geek In The Pink, ini salah satu lagu favorit saya dan Jeri waktu jaman kuliah dulu. Tiap nongkrong pasti nyanyiin lagu ini. High tempo, fun, dan lirik-lirik yang rapat hampir seperti nge-rap. Ada kebanggan tersendiri saya bisa menguasai lagu ini. Tapi tentu saja gak cocok untuk dijadiin lagu PDKT-an.
Cukup banyak waktu yang kami habiskan untuk milih lagu-lagu Jason Mraz yang emang keren semua sih. Sampe pada akhirnya kami memutuskan satu pilihan. Lagunya juga baru aja kami pelajari waktu itu, so masih fresh. Aransemennya enak, mid tempo, mendayu-dayu tapi seru. Pas banget untuk dijadiin senjata ampuh untuk menggaet hati cewek. Saya yakin se-yakin yakinnya dia bakal suka. Judulnya Love For A Child.
Kisah di balik lagu? tentang anak yang hidup dalam keluarga broken home!
Well, emang sih agak gak nyambung gitu. Tapi feeling ini udah yakin dan dengan suara bulat kami akhirnya memulai "konser tunggal" tersebut. Sambil pegang henpon saya mulai unjuk suara, sambil dideketin sama gitarnya Jeri yang sibuk mengiringi.
And see......sukses besar! Si cewe sampe ga bisa berkata-kata pas abis dinyanyiin. Entah saking excited nya ato emang muak. Eh, tapi dia bilangnya seneng kok. Dia suka bangetttt...Katanya sih yaaa.
Dan untuk kelanjutan hubungan dengan si cewek, cukup saya, dia, Tuhan, dan Jeri yang tau.
-Sekian-
<feb>
*) I'd like to believe that, was all about love for a child.....
Well..,lebih tepatnya tempat penampungan cerita-cerita,pengalaman,dan segala jenis malapetaka sampai kebahagiaan yang pernah dialami dua mahluk mamalia setengah melata, sahabat, saudara, partners in crime, majikan-ajudan, tampan-buruk rupa.......Just Enjoy!
Kamis, 18 April 2013
Bandung oh Bandung (Part 2)
Oke..ini lanjutan dari part sebelumnya yang ada di bawah. Kali ini
saya pengen posting cerita hari terakhir di Bandung sampe pulang ke
Bali, yang tak kalah ber-malapetaka!
Sebenarnya secara keseluruhan liburan kami selama di Bandung berjalan cukup lancar, lancar musibahnya. Maklum kami juga mendapat pelayanan dari 3 orang teman yang kebetulan berkuliah di sana, gak heran pelayanannya pun ala kos-kosan. Kapan-kapan ceritanya dimasukin dalam postingan yang lain.
Oke, kembali ke hari terakhir. Berhubung flight kami jam 9 malam, so kami sempatkan dulu keliling kota Bandung ditemenin teman-teman kami itu, sebut saja Melati, Asoka, dan Raflesia..isssshhhh...!
Keliling-keliling selesai, jam 4 sore lewat dikit, kami di-drop di kandang mobil travel di sekitaran Cihampelas yang akan mengantar kami ke Erpot di Jakarta. Skejulnya sih berangkat jam 5. Kami perkirakan perjalanan 2 sampe 2.5 jam. So kami bisa tiba on time di Erpot SoeTa.
O ya, pasti banyak yang tau, arus balik dari dari Bandung ke Jakarta itu pasti ramenya di hari Minggu, jalan tol pun pasti bakalan macet, begitulah kalo hari terakhir liburan. Dan beruntungnya kami balik di hari Senin.Yessss..perjalanan bakalan lancar nih, begitu pikir saya, sementara si Jeri kayaknya gak mikir apa-apa, dengan sotoy-nya dia sibuk teriak-teriak manggil penumpang ala kenek!,
"eaaaaa,Jakarta,Jakarta,Jakartaaaa, lewat Banyuwangi..langsung jalan, Pak, silahkannn..!"
Gak ada yang naik!
Pas saya tanya ngapain dia berprilaku tak senonoh gitu, katanya buat nambah-nambah uang pulang. Hanjrittt..dipikirnya ini mikrolet kali yak!
Dan tepat jam 5 kami pun berangkat tinggalkan Bandung. Pas mulai masuk Tol Pasteur hujan turun dengan derasnya. Gak berangkat, gak pulang, ternyata hujan sangat setia mendampingi kami. Tapi satu yang pasti hujan kali ini gak bikin kami basah kuyup lagi. Saya tersenyum penuh kemenangan, sementara si Jeri manyun gak karuan. Pengen boker katanya!
Dan terjadilah ke-laknatan itu! Travel yang kami tumpangin makin perlahan jalannya. Yes, macet! Dan ditambah dengan derasnya hujan makin menjadi-jadilah macetnya.
Satu jam berlalu, satu setengah jam berlalu, dan sudah jam 7 kami masih terjebak di tengah-tengah jalan tol. Kalo saya perkirakan kami bahkan belum setengah jalan. Mulai panik.
Saya mikir, bukannya ini hari Senin yak, kan jalan ini macet klo hari Minggu aja.
"Jer, bukannya ini hari Senin yak? kok macet gini?", saya bertanya ke Jeri yang dari tadi diam saja, udah kecipirit kayaknya.
"Iya sih bro,biasanya hari Minggu yang macet kan?..hmmm, kayaknya karena hari ini tanggal merah deh"
"Hmmm..iya ya, tanggal merah, berarti hari ini hari libur,.....", saya mulai keringat dingin
"Besok hari kerja lagi kan,berarti hari ini hari terakhir libur....", Jeri menambahkan
"Berarti hari ini arus balik donk...."
"Dan dengar-dengar kalo macet bisa molor berjam-jam....", Jeri makin memperkeruh suasana.
"TIDAAAAAAKKKKKKKK....!!" kami serentak teriak memecah keheningan di dalam travel itu.
Sopir kaget, mobil oleng, nabrak trotoar, terjun ke jurang, hancur berkeping-keping....oke, oke, itu lebay.
Tapi yang pasti kami berdua akhirnya sadar, karena pas hari Senin kepulangan kami adalah tanggal merah dan hari terakhir libur, sudah pasti arus balik pun bergeser ke hari ini.
Dan sudah jam 8 malam. Suasana makin mencekam, kami terbang sejam lagi, dan sekarang tidak ada tanda-tanda kalo kami sudah masuk Jakarta.
Satu-satunya yang bikin kami sedikit tenang karena kami tau bukan kami saja yang bakal ketinggalan pesawat, tapi semua penumpang di dalam mobil. Memang semua tujuannya adalah bandara.
Tapi perasaan itu hanya bertahan beberapa menit, satu per satu penumpang-penumpang itu mulai menelpon. Mereka semua sadar bakal ketinggalan pesawat. Hanya saja wajah mereka tampak santai. Dan yang bikin saya dan Jeri jadi tergerak hati untuk membantai mereka satu per satu karena kami berhasil merekam pembicaraan laknat seperti ini;
Penumpang A (nelepon): "Ya, halo, ini kayaknya saya bakal ketinggalan pesawat deh, bisa coba cariin flight lain? yang pasti saya harus pulang hari ini juga, besok ada kerjaan soalnya,,"
Penumpang B: "Wah, macet banget ya, kayaknya bakal telat nih, Pak"
Penumpang C: " Iya ya, ini bentar lagi pesawatnya boarding. Saya sudah BBM-in anak saya di Jakarta untuk cariin tiket yang baru. Kalo bapak gimana?"
Penumpang B: "Kalo saya kayaknya mau nginap aja di hotel dekat bandara. Besok aja sekalian terbang lagi"
Penumpang D (nelepon): "Udah gak papa, di-upgrade ke bisnis aja kalo yang ekonomi udah habis, nanti saya transfer pembayarannya. Info aja jam berapa saya terbang.."
Hina,,,kami sungguh merasa terhina saat itu. Saat mereka dengan santainya buking penerbangan lain atau nginap di hotel, saya dan Jeri justru tertunduk lesu, keringat dingin, muka pucat, saling menggenggam tangan erat-erat, hanya bisa pasrah meratapi nasib. Duit di dompet hanya cukup bayar airport tax dan kalo sampe ketinggalan pesawat, yang kayaknya pasti terjadi, kami pun resmi hidup menggembel di Jakarta!
Benar saja, sudah jam 9 malam, dan kami masih di jalan. Sepertinya sih udah masuk daerah Jakarta, udah ada papan penunjuk arah ke Bandara, hujan juga udah mulai sedikit mereda. Tapi tetap aja kayaknya masih akan memakan waktu kira-kira sejam lagi dengan kondisi jalan yang tak kunjung membaik.
Jam 09.45. Pupus harapan. Saya dan Jeri sudah berdiskusi, di Jakarta nanti kami mau ngapain, lebih tepatnya, gimana cara kami nge-gembel biar bisa pulang ke Bali. Jadwal masuk kantor besok pun udah gak kami pikirin lagi. Toh, kita tetep gak akan pulang hari ini, mungkin juga besok, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi. Nyesek!
Tepat jam 10, hujan kembali turun cukup deras, tepat saat kami mulai memasuki area Bandara SoeTa. Seperti gambaran nasib kami yang sebegitu pilu, hujan ini seperti mewakilinya. Kami melangkah gontai turun dari mobil, berjalan memasuki gerbang keberangkatan.
Loket Laiyen Eir tempat kami akan cek in masih keliatan rame. Dengan tatapan nanar, masih sambil bergandengan tangan (apa sihhh..), kami menoleh ke layar informasi penerbangan. Pesawat yang akan kami tumpangi masih ada disitu.
Delay sampe jam 12!
"Puji Tuhannnnnnnn..!" begitu teriak Jeri. Saya pun tak kalah keras memekik, sebegitu girangnya kami karena mujizat itu nyata,..halllahhhh!
Yang pasti kami sangat bersyukur, saling berpelukan, dan berusaha melukin orang-orang yang berdiri dekat kami. Jeri beruntung meluk cewek cakep, tapi sialnya kena gampar! Saya mengurungkan niat untuk main peluk-pelukan, takut bernasib sama.
Dan begitulah, untuk pertama kalinya kami merasa bersyukur karena pesawat delay sampe 4 jam dari waktu yang ditentukan. Kami gak berpikir karena hujan deras seharian banyak pesawat yang pasti delay, termasuk pesawat yang kami tumpangi.
Kami masuk ruang tunggu dengan wajah ceria, mata berbinar. Berbanding terbalik dengan penumpang lain yang sudah nongkrong di ruang tunggu yang kayaknya bakal satu pesawat sama kami. Dari raut wajahnya, kalo berani nyenggol dikit aja, sudah pasti kami dicabik-cabik. Pikir saya, mereka pasti datang tepat waktu, 5 jam yang lalu. Hahahaha!
<feb>
Sebenarnya secara keseluruhan liburan kami selama di Bandung berjalan cukup lancar, lancar musibahnya. Maklum kami juga mendapat pelayanan dari 3 orang teman yang kebetulan berkuliah di sana, gak heran pelayanannya pun ala kos-kosan. Kapan-kapan ceritanya dimasukin dalam postingan yang lain.
Oke, kembali ke hari terakhir. Berhubung flight kami jam 9 malam, so kami sempatkan dulu keliling kota Bandung ditemenin teman-teman kami itu, sebut saja Melati, Asoka, dan Raflesia..isssshhhh...!
Keliling-keliling selesai, jam 4 sore lewat dikit, kami di-drop di kandang mobil travel di sekitaran Cihampelas yang akan mengantar kami ke Erpot di Jakarta. Skejulnya sih berangkat jam 5. Kami perkirakan perjalanan 2 sampe 2.5 jam. So kami bisa tiba on time di Erpot SoeTa.
O ya, pasti banyak yang tau, arus balik dari dari Bandung ke Jakarta itu pasti ramenya di hari Minggu, jalan tol pun pasti bakalan macet, begitulah kalo hari terakhir liburan. Dan beruntungnya kami balik di hari Senin.Yessss..perjalanan bakalan lancar nih, begitu pikir saya, sementara si Jeri kayaknya gak mikir apa-apa, dengan sotoy-nya dia sibuk teriak-teriak manggil penumpang ala kenek!,
"eaaaaa,Jakarta,Jakarta,Jakartaaaa, lewat Banyuwangi..langsung jalan, Pak, silahkannn..!"
Gak ada yang naik!
Pas saya tanya ngapain dia berprilaku tak senonoh gitu, katanya buat nambah-nambah uang pulang. Hanjrittt..dipikirnya ini mikrolet kali yak!
Dan tepat jam 5 kami pun berangkat tinggalkan Bandung. Pas mulai masuk Tol Pasteur hujan turun dengan derasnya. Gak berangkat, gak pulang, ternyata hujan sangat setia mendampingi kami. Tapi satu yang pasti hujan kali ini gak bikin kami basah kuyup lagi. Saya tersenyum penuh kemenangan, sementara si Jeri manyun gak karuan. Pengen boker katanya!
Dan terjadilah ke-laknatan itu! Travel yang kami tumpangin makin perlahan jalannya. Yes, macet! Dan ditambah dengan derasnya hujan makin menjadi-jadilah macetnya.
Satu jam berlalu, satu setengah jam berlalu, dan sudah jam 7 kami masih terjebak di tengah-tengah jalan tol. Kalo saya perkirakan kami bahkan belum setengah jalan. Mulai panik.
Saya mikir, bukannya ini hari Senin yak, kan jalan ini macet klo hari Minggu aja.
"Jer, bukannya ini hari Senin yak? kok macet gini?", saya bertanya ke Jeri yang dari tadi diam saja, udah kecipirit kayaknya.
"Iya sih bro,biasanya hari Minggu yang macet kan?..hmmm, kayaknya karena hari ini tanggal merah deh"
"Hmmm..iya ya, tanggal merah, berarti hari ini hari libur,.....", saya mulai keringat dingin
"Besok hari kerja lagi kan,berarti hari ini hari terakhir libur....", Jeri menambahkan
"Berarti hari ini arus balik donk...."
"Dan dengar-dengar kalo macet bisa molor berjam-jam....", Jeri makin memperkeruh suasana.
"TIDAAAAAAKKKKKKKK....!!" kami serentak teriak memecah keheningan di dalam travel itu.
Sopir kaget, mobil oleng, nabrak trotoar, terjun ke jurang, hancur berkeping-keping....oke, oke, itu lebay.
Tapi yang pasti kami berdua akhirnya sadar, karena pas hari Senin kepulangan kami adalah tanggal merah dan hari terakhir libur, sudah pasti arus balik pun bergeser ke hari ini.
Dan sudah jam 8 malam. Suasana makin mencekam, kami terbang sejam lagi, dan sekarang tidak ada tanda-tanda kalo kami sudah masuk Jakarta.
Satu-satunya yang bikin kami sedikit tenang karena kami tau bukan kami saja yang bakal ketinggalan pesawat, tapi semua penumpang di dalam mobil. Memang semua tujuannya adalah bandara.
Tapi perasaan itu hanya bertahan beberapa menit, satu per satu penumpang-penumpang itu mulai menelpon. Mereka semua sadar bakal ketinggalan pesawat. Hanya saja wajah mereka tampak santai. Dan yang bikin saya dan Jeri jadi tergerak hati untuk membantai mereka satu per satu karena kami berhasil merekam pembicaraan laknat seperti ini;
Penumpang A (nelepon): "Ya, halo, ini kayaknya saya bakal ketinggalan pesawat deh, bisa coba cariin flight lain? yang pasti saya harus pulang hari ini juga, besok ada kerjaan soalnya,,"
Penumpang B: "Wah, macet banget ya, kayaknya bakal telat nih, Pak"
Penumpang C: " Iya ya, ini bentar lagi pesawatnya boarding. Saya sudah BBM-in anak saya di Jakarta untuk cariin tiket yang baru. Kalo bapak gimana?"
Penumpang B: "Kalo saya kayaknya mau nginap aja di hotel dekat bandara. Besok aja sekalian terbang lagi"
Penumpang D (nelepon): "Udah gak papa, di-upgrade ke bisnis aja kalo yang ekonomi udah habis, nanti saya transfer pembayarannya. Info aja jam berapa saya terbang.."
Hina,,,kami sungguh merasa terhina saat itu. Saat mereka dengan santainya buking penerbangan lain atau nginap di hotel, saya dan Jeri justru tertunduk lesu, keringat dingin, muka pucat, saling menggenggam tangan erat-erat, hanya bisa pasrah meratapi nasib. Duit di dompet hanya cukup bayar airport tax dan kalo sampe ketinggalan pesawat, yang kayaknya pasti terjadi, kami pun resmi hidup menggembel di Jakarta!
Benar saja, sudah jam 9 malam, dan kami masih di jalan. Sepertinya sih udah masuk daerah Jakarta, udah ada papan penunjuk arah ke Bandara, hujan juga udah mulai sedikit mereda. Tapi tetap aja kayaknya masih akan memakan waktu kira-kira sejam lagi dengan kondisi jalan yang tak kunjung membaik.
Jam 09.45. Pupus harapan. Saya dan Jeri sudah berdiskusi, di Jakarta nanti kami mau ngapain, lebih tepatnya, gimana cara kami nge-gembel biar bisa pulang ke Bali. Jadwal masuk kantor besok pun udah gak kami pikirin lagi. Toh, kita tetep gak akan pulang hari ini, mungkin juga besok, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi. Nyesek!
Tepat jam 10, hujan kembali turun cukup deras, tepat saat kami mulai memasuki area Bandara SoeTa. Seperti gambaran nasib kami yang sebegitu pilu, hujan ini seperti mewakilinya. Kami melangkah gontai turun dari mobil, berjalan memasuki gerbang keberangkatan.
Loket Laiyen Eir tempat kami akan cek in masih keliatan rame. Dengan tatapan nanar, masih sambil bergandengan tangan (apa sihhh..), kami menoleh ke layar informasi penerbangan. Pesawat yang akan kami tumpangi masih ada disitu.
Delay sampe jam 12!
"Puji Tuhannnnnnnn..!" begitu teriak Jeri. Saya pun tak kalah keras memekik, sebegitu girangnya kami karena mujizat itu nyata,..halllahhhh!
Yang pasti kami sangat bersyukur, saling berpelukan, dan berusaha melukin orang-orang yang berdiri dekat kami. Jeri beruntung meluk cewek cakep, tapi sialnya kena gampar! Saya mengurungkan niat untuk main peluk-pelukan, takut bernasib sama.
Dan begitulah, untuk pertama kalinya kami merasa bersyukur karena pesawat delay sampe 4 jam dari waktu yang ditentukan. Kami gak berpikir karena hujan deras seharian banyak pesawat yang pasti delay, termasuk pesawat yang kami tumpangi.
Kami masuk ruang tunggu dengan wajah ceria, mata berbinar. Berbanding terbalik dengan penumpang lain yang sudah nongkrong di ruang tunggu yang kayaknya bakal satu pesawat sama kami. Dari raut wajahnya, kalo berani nyenggol dikit aja, sudah pasti kami dicabik-cabik. Pikir saya, mereka pasti datang tepat waktu, 5 jam yang lalu. Hahahaha!
<feb>
Sabtu, 13 April 2013
Bandung Oh Bandung (Part 1)
Ini salah satu pengalaman kami dimana niat untuk having fun itu sering tiba-tiba berubah jadi mimpi buruk tiap ada kesempatan.
Kira-kira 2 tahun lalu kami berdiskusi cukup alot, diskusi untuk menentukan nilai prestise kami di mata masyarakat, diskusi untuk merealisasikan niatan kami untuk jadi backpacker.
Yup, diskusi ini sempat berjalan alot dan nyaris adu jotos, hanya untuk menentukan destinasi travelling kami. Gimana tidak, saya sudah capek-capek mikir mau ke Spanyol, Italia, ato yang paling dekatlah, di Thailand, eh, si Jeri malah pengen ke Pulau Komodo. Ya, gak papa sih kalo emang traveling ke Pulau Komodo nya dengan cara manusiawi, masalahnya dia maunya kita gak pake penginapan, cukup bawa tenda, terus bangun tendanya di tengah-tengah pulau, biar lebih dekat dengan alam dan interaksi dengan komodo juga lebih intens. Komodrit!! (plesetan dari anjritt!) Gak sekalian aja sebalah-sebelahan sama sarang komodo, makan bareng komodo, berendam bareng komodo! Kalo bosen jadi manusia terus mau bermutasi jadi si Komo jangan ngajak-ngajak lah.
Well, setelah berdiskusi penuh keringat dan air mata, kami memutuskan untuk travelling ke Bandung! Memang sih bukan salah satu dari beberapa tempat yang kita pikirkan, tapi mengingat keterbatasan waktu dan jaraknya yang lebih dekat, kita milih Bandung aja.
Iyeee, iyeee...emang masalahnya utamanya di bujet kok, ke Bandung lebih murah!
Dan setelah persiapan cukup, kami pun berangkat. Naik pesawat! bukan lewat jalur darat! Sekali lagi..dengan pesawat!
Iya sihhh, emang lebih murah jatuhnya klo naik pesawat, maklum, tiket promo.
O iya, kami start nya waktu itu dari Bali.
Dan mulailah kami, saat harinya tiba, berangkat dari kos-kosan, kami minta bantuan 2 orang temen kosan untuk ngantarin ke erpot naik motor, ajaibnya 4 orang yang lainnya dengan mata berbinar menawarkan diri untuk ngantar juga, sungguh kami berdua tidak pernah sadar kalo sesungguhnya ada niat busuk di balik semua itu. Ya, demi oleh-oleh! Kami terlambat menyadarinya dan dengan gembira mempersilahkan mereka untuk ikut berkonvoi.
First disaster happened, baru aja tinggalin kosan, hujan turun, dan bukan gerimis, tapi super deras, iya, deras sederas air mata jomblo yang kehabisan sabun di malam minggu - mikir keras -
Berhubung kami harus ngejar pesawat, mau gak mau hujannya terpaksa ditembus. Boro-boro pake jas hujan, anak kosan beli makan aja udah harus semedi semalaman dulu untuk menyisihkan duit, apalagi untuk beli jas hujan! Dan bisa ditebak, kami basah kuyup.
Ironisnya, di depan bandara, langit tiba-tiba cerah ceria, matahari bersinar manja, fakkkkkkkk! Semua orang menatap nanar nan miris liatin dua lelaki melata masuk erpot dengan basah kuyup padahal langit cerah. Ahhhh, andai mereka sadar apa yang telah kami lalui. Harus sehina inikah kamu untuk menginjak tanah Bandung?, begitu pikir saya. Sementara si Jeri mungkin gak mikir, dia sibuk guling-gulingan di rumput ngeringin badan. Pffftttt.....
Setelah melalui proses yang meruntuhkan harga diri dari gerbang keberangkatan, sampai ke ruang tunggu, kami akhirnya berhasil masuk pesawat dan terbang menuju Bandung. Pfffiuuhhhh..akhirnya!
*) Tu bi kontinyu...
<feb>
Kira-kira 2 tahun lalu kami berdiskusi cukup alot, diskusi untuk menentukan nilai prestise kami di mata masyarakat, diskusi untuk merealisasikan niatan kami untuk jadi backpacker.
Yup, diskusi ini sempat berjalan alot dan nyaris adu jotos, hanya untuk menentukan destinasi travelling kami. Gimana tidak, saya sudah capek-capek mikir mau ke Spanyol, Italia, ato yang paling dekatlah, di Thailand, eh, si Jeri malah pengen ke Pulau Komodo. Ya, gak papa sih kalo emang traveling ke Pulau Komodo nya dengan cara manusiawi, masalahnya dia maunya kita gak pake penginapan, cukup bawa tenda, terus bangun tendanya di tengah-tengah pulau, biar lebih dekat dengan alam dan interaksi dengan komodo juga lebih intens. Komodrit!! (plesetan dari anjritt!) Gak sekalian aja sebalah-sebelahan sama sarang komodo, makan bareng komodo, berendam bareng komodo! Kalo bosen jadi manusia terus mau bermutasi jadi si Komo jangan ngajak-ngajak lah.
Well, setelah berdiskusi penuh keringat dan air mata, kami memutuskan untuk travelling ke Bandung! Memang sih bukan salah satu dari beberapa tempat yang kita pikirkan, tapi mengingat keterbatasan waktu dan jaraknya yang lebih dekat, kita milih Bandung aja.
Iyeee, iyeee...emang masalahnya utamanya di bujet kok, ke Bandung lebih murah!
Dan setelah persiapan cukup, kami pun berangkat. Naik pesawat! bukan lewat jalur darat! Sekali lagi..dengan pesawat!
Iya sihhh, emang lebih murah jatuhnya klo naik pesawat, maklum, tiket promo.
O iya, kami start nya waktu itu dari Bali.
Dan mulailah kami, saat harinya tiba, berangkat dari kos-kosan, kami minta bantuan 2 orang temen kosan untuk ngantarin ke erpot naik motor, ajaibnya 4 orang yang lainnya dengan mata berbinar menawarkan diri untuk ngantar juga, sungguh kami berdua tidak pernah sadar kalo sesungguhnya ada niat busuk di balik semua itu. Ya, demi oleh-oleh! Kami terlambat menyadarinya dan dengan gembira mempersilahkan mereka untuk ikut berkonvoi.
First disaster happened, baru aja tinggalin kosan, hujan turun, dan bukan gerimis, tapi super deras, iya, deras sederas air mata jomblo yang kehabisan sabun di malam minggu - mikir keras -
Berhubung kami harus ngejar pesawat, mau gak mau hujannya terpaksa ditembus. Boro-boro pake jas hujan, anak kosan beli makan aja udah harus semedi semalaman dulu untuk menyisihkan duit, apalagi untuk beli jas hujan! Dan bisa ditebak, kami basah kuyup.
Ironisnya, di depan bandara, langit tiba-tiba cerah ceria, matahari bersinar manja, fakkkkkkkk! Semua orang menatap nanar nan miris liatin dua lelaki melata masuk erpot dengan basah kuyup padahal langit cerah. Ahhhh, andai mereka sadar apa yang telah kami lalui. Harus sehina inikah kamu untuk menginjak tanah Bandung?, begitu pikir saya. Sementara si Jeri mungkin gak mikir, dia sibuk guling-gulingan di rumput ngeringin badan. Pffftttt.....
Setelah melalui proses yang meruntuhkan harga diri dari gerbang keberangkatan, sampai ke ruang tunggu, kami akhirnya berhasil masuk pesawat dan terbang menuju Bandung. Pfffiuuhhhh..akhirnya!
*) Tu bi kontinyu...
<feb>
Butbet - Lasbet
Ahhh..mungkin ada yang akan bertanya-tanya apa sebenarnya Butbet dan Lasbet itu.
Butbet dan Lasbet itu sebenarnya masing-masing adalah singkatan dari 2 kata berbahasa daerah yang sering kami sebutkan, entah itu sebagai nama panggilan (sesama kami dan ke orang lain), atopun ucapan-ucapan spontan yang sering kami keluarin kalo mengekspresikan sesuatu. Contoh:
"Woy, lasbet...darimana aja lu??"
atau,
" Huaahaha..nasibmu, butbettt..butbettt..!"
Nah, kira-kira seperti itu. Yang jadi masalah, 2 kata berbahasa daerah itu adalah kosakata yang sangat melanggar norma-norma masyarakat, terutama yang menyangkut RUU tentang kumpul kebo dan santet..ehhh :))
Ahhh, gak penting, dan gak perlu lah untuk ditau lebih dalam artinya, entar malah nambah dosa. Biarlah cuma kami saja yang menanggungnya!
Hala Butbet!
Forza Lasbet!
<feb>
Butbet dan Lasbet itu sebenarnya masing-masing adalah singkatan dari 2 kata berbahasa daerah yang sering kami sebutkan, entah itu sebagai nama panggilan (sesama kami dan ke orang lain), atopun ucapan-ucapan spontan yang sering kami keluarin kalo mengekspresikan sesuatu. Contoh:
"Woy, lasbet...darimana aja lu??"
atau,
" Huaahaha..nasibmu, butbettt..butbettt..!"
Nah, kira-kira seperti itu. Yang jadi masalah, 2 kata berbahasa daerah itu adalah kosakata yang sangat melanggar norma-norma masyarakat, terutama yang menyangkut RUU tentang kumpul kebo dan santet..ehhh :))
Ahhh, gak penting, dan gak perlu lah untuk ditau lebih dalam artinya, entar malah nambah dosa. Biarlah cuma kami saja yang menanggungnya!
Hala Butbet!
Forza Lasbet!
<feb>
And The Disasters Just Got Started
Ok, untuk postingan2 awal ini, saya, Febry yang nulis dulu. Ntar kalo umur panjang, si Jeri juga bakalan nimbrung. Aminnnnn..!
Cekidottt!
So, duo mamalia ini pertama kali ditakdirkan bertemu saat PDSP (baca: Ospek) waktu masuk AKPAR dulu. Masuk dalam program studi yang sama, kami pun mengalami penderitaan yang sama pastinya. O iya, foto yang di posting-an pertama itulah wujud kami saat di-PDSP. Iya, iya, tau, mukanya mirip terpidana mati yang lagi nunggu waktu eksekusi terus malah disajikan pool dance "wanita ber-burung" sebagai hiburan terakhir.
Si Jeri agak lebih beruntung karena terpilih sebagai pemimpin utama barisan mahasiswa baru. So, kalo para mahasiswa baru bikin kesalahan, hukuman terlebih dahulu dilimpahkan pada si pemimpin barisan . Selamatttt! Masih inget mukanya waktu disuruh jongkok setengah, ibarat lagi boker, ujungnya udah menjuntai keluar tapi kesedot masuk lagi gara-gara Korea Utara buang nuklir di sebelah kloset, nyesek gitu.
Ada satu pengalaman yang gak bakal kami lupakan selama pembantaian PDSP itu. Waktu jam masih menunjukkan pukul 4 subuh, semua mahasiswa udah dikumpulin di lapangan tengah kampus, dimulailah parade susu bergilir, hasil kreasi keji dari para senior. Susu diisi seperempat botol air mineral ukuran sedang, mulai dikumur sama mahasiswa urutan pertama, dibalikin lagi ke dalam botol, ditransfer ke teman di sebelahnya, sampe selesai di mahasiswa ke-seratus sekian. Nikmat?? well, it's not over yet...teman kami yang beruntung, sebut saja Melati,..haddeeuuhh..namanya Michael, datang dengan paniknya ke dalam barisan. Yes dia telat, sodara-sodara, dan yes, dia akan menyesal sudah berani terlambat PDSP,..hohoho, yes, wajah para senior sudah berbinar keji liatin dia. Dan hadiah untuk keterlambatannya adalah jadi orang terakhir yang menikmati susu bergilir kami yang keliatan udah udah makin banyak isinya, yuhuuuuu...o iya, sebagai bonus, susu nya boleh dia telan!
Dan yes, disitulah awal saya dan Jeri bertemu dan menciptakan banyak musibah + berkah bagi diri kami dan orang disekitar kami.
<feb>
Cekidottt!
So, duo mamalia ini pertama kali ditakdirkan bertemu saat PDSP (baca: Ospek) waktu masuk AKPAR dulu. Masuk dalam program studi yang sama, kami pun mengalami penderitaan yang sama pastinya. O iya, foto yang di posting-an pertama itulah wujud kami saat di-PDSP. Iya, iya, tau, mukanya mirip terpidana mati yang lagi nunggu waktu eksekusi terus malah disajikan pool dance "wanita ber-burung" sebagai hiburan terakhir.
Si Jeri agak lebih beruntung karena terpilih sebagai pemimpin utama barisan mahasiswa baru. So, kalo para mahasiswa baru bikin kesalahan, hukuman terlebih dahulu dilimpahkan pada si pemimpin barisan . Selamatttt! Masih inget mukanya waktu disuruh jongkok setengah, ibarat lagi boker, ujungnya udah menjuntai keluar tapi kesedot masuk lagi gara-gara Korea Utara buang nuklir di sebelah kloset, nyesek gitu.
Ada satu pengalaman yang gak bakal kami lupakan selama pembantaian PDSP itu. Waktu jam masih menunjukkan pukul 4 subuh, semua mahasiswa udah dikumpulin di lapangan tengah kampus, dimulailah parade susu bergilir, hasil kreasi keji dari para senior. Susu diisi seperempat botol air mineral ukuran sedang, mulai dikumur sama mahasiswa urutan pertama, dibalikin lagi ke dalam botol, ditransfer ke teman di sebelahnya, sampe selesai di mahasiswa ke-seratus sekian. Nikmat?? well, it's not over yet...teman kami yang beruntung, sebut saja Melati,..haddeeuuhh..namanya Michael, datang dengan paniknya ke dalam barisan. Yes dia telat, sodara-sodara, dan yes, dia akan menyesal sudah berani terlambat PDSP,..hohoho, yes, wajah para senior sudah berbinar keji liatin dia. Dan hadiah untuk keterlambatannya adalah jadi orang terakhir yang menikmati susu bergilir kami yang keliatan udah udah makin banyak isinya, yuhuuuuu...o iya, sebagai bonus, susu nya boleh dia telan!
Dan yes, disitulah awal saya dan Jeri bertemu dan menciptakan banyak musibah + berkah bagi diri kami dan orang disekitar kami.
<feb>
Selayang Pandang
Dan blog ini pun resmi dibentuk, tepat tanggal 13 April 2013, tepat di hari lahirnya Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ke-3, yang korelasinya sendiri entah ada dimana.
Ah sudahlah, yang pasti blog ini akan banyak bercerita dan menyampah tentang dua biji anak manusia yang masih-masing memiliki 2 biji..eh, apaan sih?
Sebagai postingan awal akan dijadikan sebagai ajang perkenalan dan semoga bisa menjadi "susuk" yang mujarab demi berlangsungnya blog ini ke depan nantinya. Seperti buku, nilailah dari sampulnya, kalo sampulnya jelek, jangan dibaca!
Dan inilah kami...!
Kenalin, yang sebelah kiri, yang mukanya dari jauh keliatan ala oriental, tapi sebenarnya dari dekat lebih mirip bekantan itu, sebut saja Mawar..hallahh...namanya FEBRY. Hasil dari persilangan genetik orang asli Manado dan asli Toraja. Selalu menganggap dirinya yang paling ganteng sejagad, yang sebenarnya tidak lebih manusiawi mukanya dibandingkan ikan sapu-sapu. Kalo kalian pernah liat personel dari Super Junior, nah, muka si Febry ini gak jauh bedalah,..dengan bemper mobilnya, setelah nabrak trotoar, dilindas truk. Hobi nyanyi dan menciptakan lagu. Konon katanya lagu ciptaan pertamanya itu inspirasinya keluar pas lagi bersenggama dengan kloset (baca: boker), judulnya "PARTY". Iya, emang gak nyambung!
Beranjak ke sebelahnya, jongkok dengan wajah ratapan anak tiri, yang akhirnya dibuang oleh orang tua dan diasuh sama pembantu, orang-orang memanggilnya dengan nama JERI. Peranakan Toraja asli. Dengar desas desus dari orang, katanya waktu kecil dulu nyaris dituker beras sama si ibu, saking bandelnya.Sangat senang traveling, walopun rute terjauhnya selama ini adalah mini market sebelah kosannya, itupun pas balik masih nyasar juga. Pandai bermain gitar dengan lagu andalan berjudul "Mirasantika (Minuman perasan susunya Tika)", itulah kenapa dia juga mendapat julukan Kesatria Bergitar, dengan nama panggung Jeri Irama. Tak terlepas juga dari kekagumannya pada Oprah. Iyeeeeee, gak nyambung!
Takdir dengan bejatnya menyatukan kami dari 2004 di sebuah perguruan tinggi negeri di Makassar, dengan bangga kami sebutkan AKPAR Makassar (bukan AKPER -____-"), bersahabat, sampe sekarang sama-sama mengadu nasib di Pulau Bali. Kejadian dan pengalaman-pengalaman dari rentang waktu itulah yang akan kami umbar dalam blog ini.
Itulah kami, dan mulai sekarang kalo kalian memutuskan membaca blog ini, bersiaplah untuk kami setubuhi,..eh,..mmm..maksudnya merasakan pengalaman yang sama dengan kami,..yaaah,seperti itulah kira-kira.
Sit back, relax, makan triplek!
Ah sudahlah, yang pasti blog ini akan banyak bercerita dan menyampah tentang dua biji anak manusia yang masih-masing memiliki 2 biji..eh, apaan sih?
Sebagai postingan awal akan dijadikan sebagai ajang perkenalan dan semoga bisa menjadi "susuk" yang mujarab demi berlangsungnya blog ini ke depan nantinya. Seperti buku, nilailah dari sampulnya, kalo sampulnya jelek, jangan dibaca!
Dan inilah kami...!
Kenalin, yang sebelah kiri, yang mukanya dari jauh keliatan ala oriental, tapi sebenarnya dari dekat lebih mirip bekantan itu, sebut saja Mawar..hallahh...namanya FEBRY. Hasil dari persilangan genetik orang asli Manado dan asli Toraja. Selalu menganggap dirinya yang paling ganteng sejagad, yang sebenarnya tidak lebih manusiawi mukanya dibandingkan ikan sapu-sapu. Kalo kalian pernah liat personel dari Super Junior, nah, muka si Febry ini gak jauh bedalah,..dengan bemper mobilnya, setelah nabrak trotoar, dilindas truk. Hobi nyanyi dan menciptakan lagu. Konon katanya lagu ciptaan pertamanya itu inspirasinya keluar pas lagi bersenggama dengan kloset (baca: boker), judulnya "PARTY". Iya, emang gak nyambung!
Beranjak ke sebelahnya, jongkok dengan wajah ratapan anak tiri, yang akhirnya dibuang oleh orang tua dan diasuh sama pembantu, orang-orang memanggilnya dengan nama JERI. Peranakan Toraja asli. Dengar desas desus dari orang, katanya waktu kecil dulu nyaris dituker beras sama si ibu, saking bandelnya.Sangat senang traveling, walopun rute terjauhnya selama ini adalah mini market sebelah kosannya, itupun pas balik masih nyasar juga. Pandai bermain gitar dengan lagu andalan berjudul "Mirasantika (Minuman perasan susunya Tika)", itulah kenapa dia juga mendapat julukan Kesatria Bergitar, dengan nama panggung Jeri Irama. Tak terlepas juga dari kekagumannya pada Oprah. Iyeeeeee, gak nyambung!
Takdir dengan bejatnya menyatukan kami dari 2004 di sebuah perguruan tinggi negeri di Makassar, dengan bangga kami sebutkan AKPAR Makassar (bukan AKPER -____-"), bersahabat, sampe sekarang sama-sama mengadu nasib di Pulau Bali. Kejadian dan pengalaman-pengalaman dari rentang waktu itulah yang akan kami umbar dalam blog ini.
Itulah kami, dan mulai sekarang kalo kalian memutuskan membaca blog ini, bersiaplah untuk kami setubuhi,..eh,..mmm..maksudnya merasakan pengalaman yang sama dengan kami,..yaaah,seperti itulah kira-kira.
Sit back, relax, makan triplek!
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

