Oke..ini lanjutan dari part sebelumnya yang ada di bawah. Kali ini
saya pengen posting cerita hari terakhir di Bandung sampe pulang ke
Bali, yang tak kalah ber-malapetaka!
Sebenarnya secara keseluruhan liburan kami selama di Bandung berjalan cukup lancar, lancar musibahnya. Maklum kami juga mendapat pelayanan dari 3 orang teman yang kebetulan berkuliah di sana, gak heran pelayanannya pun ala kos-kosan. Kapan-kapan ceritanya dimasukin dalam postingan yang lain.
Oke, kembali ke hari terakhir. Berhubung flight kami jam 9 malam, so kami
sempatkan dulu keliling kota Bandung ditemenin teman-teman kami itu, sebut saja Melati, Asoka, dan
Raflesia..isssshhhh...!
Keliling-keliling selesai, jam 4 sore lewat dikit, kami di-drop di kandang mobil travel di sekitaran Cihampelas yang akan mengantar kami ke Erpot di Jakarta. Skejulnya sih berangkat jam 5. Kami perkirakan perjalanan 2 sampe 2.5 jam. So kami bisa tiba on time di Erpot SoeTa.
O ya, pasti banyak yang tau, arus balik dari dari Bandung ke Jakarta itu pasti ramenya di hari Minggu, jalan tol pun pasti bakalan macet, begitulah kalo hari terakhir liburan. Dan beruntungnya kami balik di hari Senin.Yessss..perjalanan bakalan lancar nih, begitu pikir saya, sementara si Jeri kayaknya gak mikir apa-apa, dengan sotoy-nya dia sibuk teriak-teriak manggil penumpang ala kenek!,
"eaaaaa,Jakarta,Jakarta,Jakartaaaa, lewat Banyuwangi..langsung jalan, Pak, silahkannn..!"
Gak ada yang naik!
Pas saya tanya ngapain dia berprilaku tak senonoh gitu, katanya buat nambah-nambah uang pulang. Hanjrittt..dipikirnya ini mikrolet kali yak!
Dan tepat jam 5 kami pun berangkat tinggalkan Bandung. Pas mulai masuk Tol Pasteur hujan turun dengan derasnya. Gak berangkat, gak pulang, ternyata hujan sangat setia mendampingi kami. Tapi satu yang pasti hujan kali ini gak bikin kami basah kuyup lagi. Saya tersenyum penuh kemenangan, sementara si Jeri manyun gak karuan. Pengen boker katanya!
Dan terjadilah ke-laknatan itu! Travel yang kami tumpangin makin perlahan jalannya. Yes, macet! Dan ditambah dengan derasnya hujan makin menjadi-jadilah macetnya.
Satu jam berlalu, satu setengah jam berlalu, dan sudah jam 7 kami masih terjebak di tengah-tengah jalan tol. Kalo saya perkirakan kami bahkan belum setengah jalan. Mulai panik.
Saya mikir, bukannya ini hari Senin yak, kan jalan ini macet klo hari Minggu aja.
"Jer, bukannya ini hari Senin yak? kok macet gini?", saya bertanya ke Jeri yang dari tadi diam saja, udah kecipirit kayaknya.
"Iya sih bro,biasanya hari Minggu yang macet kan?..hmmm, kayaknya karena hari ini tanggal merah deh"
"Hmmm..iya ya, tanggal merah, berarti hari ini hari libur,.....", saya mulai keringat dingin
"Besok hari kerja lagi kan,berarti hari ini hari terakhir libur....", Jeri menambahkan
"Berarti hari ini arus balik donk...."
"Dan dengar-dengar kalo macet bisa molor berjam-jam....", Jeri makin memperkeruh suasana.
"TIDAAAAAAKKKKKKKK....!!" kami serentak teriak memecah keheningan di dalam travel itu.
Sopir kaget, mobil oleng, nabrak trotoar, terjun ke jurang, hancur berkeping-keping....oke, oke, itu lebay.
Tapi yang pasti kami berdua akhirnya sadar, karena pas hari Senin kepulangan kami adalah tanggal merah dan hari terakhir libur, sudah pasti arus balik pun bergeser ke hari ini.
Dan sudah jam 8 malam. Suasana makin mencekam, kami terbang sejam lagi, dan sekarang tidak ada tanda-tanda kalo kami sudah masuk Jakarta.
Satu-satunya yang bikin kami sedikit tenang karena kami tau bukan kami saja yang bakal ketinggalan pesawat, tapi semua penumpang di dalam mobil. Memang semua tujuannya adalah bandara.
Tapi perasaan itu hanya bertahan beberapa menit, satu per satu penumpang-penumpang itu mulai menelpon. Mereka semua sadar bakal ketinggalan pesawat. Hanya saja wajah mereka tampak santai. Dan yang bikin saya dan Jeri jadi tergerak hati untuk membantai mereka satu per satu karena kami berhasil merekam pembicaraan laknat seperti ini;
Penumpang A (nelepon): "Ya, halo, ini kayaknya saya bakal ketinggalan pesawat deh, bisa coba cariin flight lain? yang pasti saya harus pulang hari ini juga, besok ada kerjaan soalnya,,"
Penumpang B: "Wah, macet banget ya, kayaknya bakal telat nih, Pak"
Penumpang C: " Iya ya, ini bentar lagi pesawatnya boarding. Saya sudah BBM-in anak saya di Jakarta untuk cariin tiket yang baru. Kalo bapak gimana?"
Penumpang B: "Kalo saya kayaknya mau nginap aja di hotel dekat bandara. Besok aja sekalian terbang lagi"
Penumpang D (nelepon): "Udah gak papa, di-upgrade ke bisnis aja kalo yang ekonomi udah habis, nanti saya transfer pembayarannya. Info aja jam berapa saya terbang.."
Hina,,,kami sungguh merasa terhina saat itu. Saat mereka dengan santainya buking penerbangan lain atau nginap di hotel, saya dan Jeri justru tertunduk lesu, keringat dingin, muka pucat, saling menggenggam tangan erat-erat, hanya bisa pasrah meratapi nasib. Duit di dompet hanya cukup bayar airport tax dan kalo sampe ketinggalan pesawat, yang kayaknya pasti terjadi, kami pun resmi hidup menggembel di Jakarta!
Benar saja, sudah jam 9 malam, dan kami masih di jalan. Sepertinya sih udah masuk daerah Jakarta, udah ada papan penunjuk arah ke Bandara, hujan juga udah mulai sedikit mereda. Tapi tetap aja kayaknya masih akan memakan waktu kira-kira sejam lagi dengan kondisi jalan yang tak kunjung membaik.
Jam 09.45. Pupus harapan. Saya dan Jeri sudah berdiskusi, di Jakarta nanti kami mau ngapain, lebih tepatnya, gimana cara kami nge-gembel biar bisa pulang ke Bali. Jadwal masuk kantor besok pun udah gak kami pikirin lagi. Toh, kita tetep gak akan pulang hari ini, mungkin juga besok, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi. Nyesek!
Tepat jam 10, hujan kembali turun cukup deras, tepat saat kami mulai memasuki area Bandara SoeTa. Seperti gambaran nasib kami yang sebegitu pilu, hujan ini seperti mewakilinya. Kami melangkah gontai turun dari mobil, berjalan memasuki gerbang keberangkatan.
Loket Laiyen Eir tempat kami akan cek in masih keliatan rame. Dengan tatapan nanar, masih sambil bergandengan tangan (apa sihhh..), kami menoleh ke layar informasi penerbangan. Pesawat yang akan kami tumpangi masih ada disitu.
Delay sampe jam 12!
"Puji Tuhannnnnnnn..!" begitu teriak Jeri. Saya pun tak kalah keras memekik, sebegitu girangnya kami karena mujizat itu nyata,..halllahhhh!
Yang pasti kami sangat bersyukur, saling berpelukan, dan berusaha melukin orang-orang yang berdiri dekat kami. Jeri beruntung meluk cewek cakep, tapi sialnya kena gampar! Saya mengurungkan niat untuk main peluk-pelukan, takut bernasib sama.
Dan begitulah, untuk pertama kalinya kami merasa bersyukur karena pesawat delay sampe 4 jam dari waktu yang ditentukan. Kami gak berpikir karena hujan deras seharian banyak pesawat yang pasti delay, termasuk pesawat yang kami tumpangi.
Kami masuk ruang tunggu dengan wajah ceria, mata berbinar. Berbanding terbalik dengan penumpang lain yang sudah nongkrong di ruang tunggu yang kayaknya bakal satu pesawat sama kami. Dari raut wajahnya, kalo berani nyenggol dikit aja, sudah pasti kami dicabik-cabik. Pikir saya, mereka pasti datang tepat waktu, 5 jam yang lalu. Hahahaha!
<feb>
Well..,lebih tepatnya tempat penampungan cerita-cerita,pengalaman,dan segala jenis malapetaka sampai kebahagiaan yang pernah dialami dua mahluk mamalia setengah melata, sahabat, saudara, partners in crime, majikan-ajudan, tampan-buruk rupa.......Just Enjoy!
Tidak ada komentar :
Posting Komentar